Kesembuhan
dari Luka Batin[1]
Diterjemahkan dari “Out of
Darkness into Light Wholeness Prayer Basic Modules”
©2007, 2005, 2004 Freedom
for the Captives Ministries
Semua ayat Alkitab
dari Terjemahan Baru © Lembaga Alkitab
Boleh difotokopi untuk pemakaian pribadi
Tidak
untuk diperdagangkan
Dasar
Alkitabiah – Kesembuhan dari Luka Batin
“Kekasihku mulai berbicara kepadaku: "Bangunlah manisku, jelitaku, marilah! Karena lihatlah, musim dingin telah lewat,
hujan telah berhenti dan sudah lalu. Di ladang
telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di
tanah kita” (Kidung Agung 2:10-12).
“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang
rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu
memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu
keluar dari kegelapan kepada terang-Nya
yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah
menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh
belas kasihan” (1Petrus 2:9-10).
“Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung,
yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh
berpegang pada pengakuan iman kita.
Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat
turut merasakan kelemahan-kelemahan kita,
sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh
keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan
menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”
(Ibrani 4:14-16).
“Dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala
orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan
dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui
segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan
Allah.” (Efesus 3:17b-19).
“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya dan kesengsaraan kita yang
dipikulnya…” (Yesaya 53:4a).
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan
berbeban berat, Aku akan memberi
kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang
Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan
jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku
pun ringan.” (Matius
11:28-30).
“Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami
tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah
senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang
sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.
Kami mematahkan setiap siasat
orang dan merubuhkan setiap kubu
yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan
menaklukkannya kepada Kristus” (2 Korintus 10:3-5).
Untuk dasar alkitabiah yang lebih lengkap untuk
modul ini, lihatlah “Lampiran 3: Dasar Alkitabiah yang Singkat untuk Mencari
Kesembuhan dari Luka Batin” dalam modul ini.
Banyak perasaan yang kurang enak dialami karena
masalah keyakinan salah. Akan tetapi,
perasaan yang kurang enak juga dapat berakar dalam kebenaran.
Beberapa contoh dari perasaan kurang enak
berdasarkan sesuatu yang benar adalah:
Penggambaran Proses
Modul 6 – A. Mengundang Tuhan Menanggung Perasaan Tidak Menyenangkan
Berdasarkan Sesuatu yang Benar

Catatan: Tuhan mungkin tidak langsung menghilangkan semua kepedihan dari perasaan Anda yang kurang enak. Tetapi, sekalipun Dia membiarkan kepedihan itu untuk beberapa waktu, Dia menawarkan kelegaan kepada Anda dan menawarkan juga untuk berjalan bersama Anda dalam perjalanan hidup Anda.
Proses Langkah-demi-Langkah[3]
- A. Perasaan Tidak Menyenangkan Berdasarkan
Sesuatu yang Benar
Catatan: Lihat “Modul 1: Ringkasan dan Pengantar” untuk
memulai dan mengakhiri langkah-langkah, dan keterangan tentang bagaimana
memakai modul-modul untuk berbagai keadaan.
1. Mohonlah supaya Tuhan menunjukkan semua perasaan
yang kurang enak berdasarkan sesuatu yang benar.
2. Bila perasaan kurang enak disebabkan dukacita
dan kehilangan, lihatlah “Lampiran 1: Berdukacita karena Kehilangan Seseorang
atau Sesuatu” dalam modul ini.
3. Bila perasaan kurang enak adalah amarah,
lihatlah “Lampiran 2: Bila Perasaan Negatif adalah Amarah” dalam modul
ini. Bila perasaan dibelakang amarah adalah
berdasarkan keyakinan salah, lihat Bagian B dalam modul ini.
4. Mohonlah supaya Tuhan menunjukkan kepada Anda
apakah ada tindakan yang Dia ingin Anda lakukan sebelum melanjutkan dengan
proses ini.
5.
Bersyukurlah kepada Tuhan, bahwa Anda sebagai pengikut Yesus, Anda
dihubungkan dengan Dia. Bersyukurlah
bahwa Dia menawarkan Anda kelegaan (Matius 11: 28-30). Bersyukurlah kepadaNya bahwa Dia menanggung
kesengsaraan Anda (Yesaya 53: 4a).
6. Untuk
perasaan kurang enak, mohonlah supaya Tuhan menolong Anda merasakan kepedihan
sebanyak yang Dia inginkan sekarang, didalam hadiratNya. Anda mungkin merasakan kepedihan ini baik
secara fisik maupun secara emosional.
7. Mohonlah
supaya Tuhan menanggung beban ini.
Berikanlah kepadaNya beban Anda.
8.
Bersyukurlah kepadaNya untuk apa yang telah Dia lakukan.
Catatan: Tuhan
mungkin tidak langsung menghilangkan semua kepedihan dari perasaan Anda yang kurang enak. Tetapi, sekalipun Dia membiarkan kepedihan
itu untuk beberapa waktu, Dia menawarkan kelegaan kepada Anda dan menawarkan
juga untuk berjalan bersama Anda dalam perjalanan hidup Anda.
Luka batin
adalah tempat di hati Anda yang menyakitkan (yang membuat Anda merasa
pedih). Luka batin berdasarkan keyakinan
salah mungkin mempunyai akar ketika Anda menyalahartikan suatu pengalaman atau
menerima informasi salah tapi tampaknya benar yang diberikan orang lain. [5]
Anda mungkin
mempunyai keyakinan salah karena Anda percaya akan kata-kata tidak benar yang
menyakitkan yang disampaikan kepada Anda, atau kata-kata yang didengar oleh
Anda. Atau Anda mungkin telah membuat
kesimpulan keliru mengenai diri Anda, orang lain atau lingkungan Anda pada
umumnya. Keyakinan salah seolah-olah
merupakan kesimpulan terbaik atau merupakan satu-satunya kesimpulan pada waktu
itu.
Beberapa contoh
keyakinan salah adalah:
·
“Tak
seorang pun mengasihi saya”.
· “Saya tidak berharga”.
·
“Hidup
ini tidak punya harapan”.
·
“Saya
tidak pernah bisa berubah”.
·
“Saya
tidak pernah bisa mempercayai seseorang”.
Keyakinan salah merupakan suatu keyakinan juga. Keyakinan salah bisa mempunyai bagian yang
benar didalamnya. Tetapi, sebenarnya
keyakinan itu sepenuhnya salah. (Misalnya, memang benar tidak bijaksana untuk
mempercayai beberapa orang. Munkin juga benar tidak bijaksana untuk
mempercayai banyak atau semua orang yang Anda tahu. Tetapi ada beberapa orang di dunia yang
hampir selalu dapat dipercaya, tetapi hanya Tuhan yang selalu dapat dipercaya
sepenuhnya).
Selain masalah keyakinan salah, mungkin ada
beberapa benteng di dalam diri Anda yang berkaitan. Beberapa contoh dari benteng
semacam ini adalah:
(bukannya sekedar mengamati “Ia telah melakukan
banyak hal yang tampaknya seperti kikir”).
Catatan: Untuk
informasi mengenai benteng di dalam diri sendiri, lihatlah “Modul
5: Mematahkan Benteng Di Dalam Diri Sendiri”.
kapan luka batin itu mulai, satu atau lebih dari
ingatan yang tidak mendapatkan penyelesaian mempunyai hubungan dengan tiap
luka.
Kepedihan yang ada dalam luka batin dapat dipicu
oleh suatu peristiwa yang secara samar-samar serupa dengan situasi dimana luka
batin itu terjadi pertama kali. “Pemicu”
ini sebenarnya menjadi kesempatan untuk pertumbuhan dan kesembuhan, ketika Anda
menawan dan membawa kepada Yesus pikiran dan perasaan yang berkaitan dengan
luka batin itu, dan mencari pandangan Tuhan untuk masalah ini. Mendapatkan pandangan Tuhan memang tidak
mengubah peristiwa yang sebenarnya, tetapi pandangan Tuhan dapat mengubah
secara luar biasa cara berpikir dan cara merasakan Anda terhadap apa yang
pernah terjadi.
Proses
ini melibatkan:
Melakukan
proses ini dapat menolong membebaskan Anda secara luar biasa dari pola
kebiasaan yang bukan berasal dari Tuhan dalam cara hidup dan berpikir, ketika
Anda memohon supaya Yesus menunjukkan masalah keyakinan salah dan mengungkapkan
dimana Anda mempelajari masalah ini.
Kemudian Anda memohon pandangan Tuhan masuk ke lubuk hati Anda.
Proses ini mempunyai dasar doa. Proses ini melibatkan menawan pikiran dan
perasaan Anda dan membawanya kepada Yesus, Penasihat kita yang Agung.
Mengkaji (menganalisis) pikiran dan perasaan
Anda dapat juga menolong, tetapi cenderung tidak se-efektif dibandingkan dengan
memperoleh kebenaran Tuhan di bagian dimana ada kepedihan emosional. Modul ini tidak mefokus pada pengkajian.
Modul ini mungkin bisa lebih mudah dilakukan
bersama seseorang. Bisa menyulitkan
untuk melakukan dua hal pada saat yang sama, yaitu mefokus pada perasaan dan
melakukan proses, terutama bila perasaan Anda cukup kuat. Bila Anda mengalami trauma berat, garaplah
isu-isu itu dengan seseorang. Kelak,
Anda bisa memutuskan untuk memproses sendiri (tanpa orang lain) ingatan-ingatan
yang kurang pedih.
Bila Anda mendampingi orang lain untuk
melakukan proses ini:
o
Ketahuilah otoritas Anda (dalam Kristus) atas si jahat.
o
Ingatlah untuk mengikuti
rencana Tuhan. Serahkanlah ide-ide Anda
kepadaNya.
o Jadilah pendengar yang baik. Jangan
memberi nasihat. Biarkan
Tuhan yang memberi jawaban.
o
Bertindaklah dengan lemah
lembut. Bersabarlah. Biarkanlah Roh Kudus membimbing proses ini.
o
Berilah respons dengan kasih, bukan dengan cara menghakimi.
o
Hargailah orang yang didampingi.
o
Bersukacitalah bahwa Tuhan mengubah pengikut Yesus (2 Korintus 3: 18).
o
Ingatlah untuk selalu memegang
rahasia. Ceritakan hanya cerita Anda. Biarkan orang lain menceritakan cerita mereka
sendiri.
o
Carilah juga kesembuhan untuk Anda sendiri, bila perlu.
o
Bila Anda berdoa dengan lawan jenis, usahakanlah ada orang lain
berdoa
bersama
Anda atau berada dekat Anda supaya ia dapat melihat Anda.
Janganlah
berdoa dengan seseorang di suatu tempat yang dapat memberi
kesempatan
untuk berbuat dosa.
Catatan:
Beberapa orang yang mengalami trauma lebih berat, atau mereka yang belum
mempunyai dasar cukup kuat dalam Kristus, mungkin belum siap untuk membawa luka
batin kepada Tuhan. Hidup dalam kelompok
orang Kristen sehat dapat menolong mereka mengembangkan rasa aman yang
mendasar. Lihatlah juga “Modul 1: Ringkasan dan Pengantar” dan
“Modul 11: Menemukan Rasa Aman Sejati”.
Catatan:
Pelatihan dasar ini tidak membahas Dissociative Identity Disorder (DID). [6]

_________________________________________________
Kertas Isian untuk Menggarap Luka Batin
Modul 6B -
Dari Gelap ke Dalam Terang
©2007, 2005 Freedom for the
Captives Ministries. Boleh difotokopi untuk pemakaian pribadi. Tidak
untuk diperdagangkan.
1. Perasaan yang kurang enak:
2. Suatu peristiwa yang memicu perasaan ini:
a. Perasaan dalam peristiwa ini:
b. Pikiran/keyakinan dalam peristiwa ini:
3. Ingatan pertama/kunci (yang mengandung perasaan/pikiran
yang mirip dengan perasaan/pikiran dalam peristiwa yang memicu perasaan yang
sedang digarap):
a. Perasaan:
b. Pikiran/keyakinan:
c. Pandangan Yesus (kebenaran):
4.
Pandangan Yesus dalam peristiwa yang memicu perasaan yang digarap:
5.
Terapan (untuk kehidupan sekarang dan seterusnya):
Lihatlah juga Proses Langkah-demi-Langkah yang Terinci – B
1. Bila
orang yang dilayani belum mengenal proses ini,
terangkan dulu kepada mereka. Kemudian tanyakan apakah orang itu mau berdoa bersama Anda dengan cara ini.
2.
Doakanlah doa pembuka.
3. Mohonlah
supaya Tuhan menunjukkan kepada orang itu apa yang Tuhan ingin lakukan pada
saat ini.
4. Bila isu
yang akan digarap bukan suatu perasaan negatif, mohonlah supaya Yesus
mengungkapkan perasaan-perasaan yang lebih dalam kalau ada.
5. Ajaklah
orang itu menawan perasaan-perasaan negatif sekarang.
6. Mohonlah
supaya Yesus menolong orang itu merasakan kembali kepedihan yang pernah dialami
sebanyak yang Tuhan inginkan sekarang untuk mejalankan proses ini. Kemudian mohonlah supaya Yesus memunculkan
didalam pikirannya saat pertama kali ia
merasa seperti ini. Inilah ingatan orisinal.
7. Mohonlah supaya Yesus menunjukkan adanya
keyakinan salah dalam ingatan.
8. Tanyalah
kepada orang itu apakah saat ini ia merasakan dalam ingatannya
o
perasaan-perasaan negatif
o
bahwa keyakinan-keyakinan salah ini dipercaya seolah-olah benar.
Bila
ia sudah merasakan sebagian perasaan dan
keyakinan ini, mohonlah supaya Yesus memasukkan kebenaran didalam ingatan.
9. Tanyalah apakah ada sesuatu dalam ingatan
yang belum dirasakan damai. Bila ada,
mohonlah supaya Yesus mengungkapkan masalah keyakinan salah lainnya atau
perasaan-perasaan negatif yang ada dalam ingatan. Ikutilah proses di atas untuk memperoleh
pandangan Yesus terhadap hal ini.
10. Mohonlah supaya Yesus mengungkapkan kepada
orang itu bagaimana kebenaran-kebenaran diterapkan sekarang (saat ini). Bila Yesus memunculkan kedalam benak
ingatan-ingatan lainnya sebelum ingatan orisinal
(atau ingatan kunci yang dapat
membuka jalan menuju kebenaran), mohonlah supaya Dia mengungkapkan kebenaranNya
dalam ingatan-ingatan juga.
11. Tanyalah Yesus apa yang Dia ingin lakukan
berikutnya. Ikutilah Yesus bila Dia
membawa orang itu sampai ke ingatan-ingatan lain, bila Dia ingin orang itu
menawan perasaan-perasaan negatif lainnya atau bila Dia ingin menggarap isu-isu
lain.
12. Terapkanlah bagian-bagian yang sesuai yang
ada dalam “Modul 9: Mengampuni dan Menerima Diri Sendiri”.
13. Bersyukurlah kepada Tuhan untuk kebenaran
yang dinyatakanNya. Bersukacitalah untuk apa yang telah Tuhan lakukan.
14. Doakanlah doa penutup.
15.
Terapkanlah bagian “Pengantar D.4 & Pengantar D.5” di “Modul 1:
Ringkasan dan Pengantar”.
Catatan:
Lihat “Modul 1: Ringkasan dan Pengantar”
untuk memulai dan mengakhiri langkah-langkah, dan keterangan tentang
bagaimana memakai modul-modul untuk berbagai keadaan.
1. Bila
orang yang dilayani belum mengenal proses ini, terangkanlah dulu kepada
mereka. Kemudian tanyakan apakah orang
itu mau berdoa bersama Anda dengan cara ini.
Hal-hal
penting dari proses ini mencakup:
·
Anda
memohon supaya Tuhan menolong orang itu menerapkan kebenaran ini didalam
hidupnya
Untuk keterangan yang lebih rinci mengenai proses
ini, aculah kepada modul ini dan Bagian D di “Modul 1: Ringkasan dan
Pengantar”.
2. Doakan doa pembuka. Lihat bagian “Pengantar D.1” di “Modul 1:
Ringkasan dan Pengantar”.
Pilihan: mintalah orang itu untuk berdoa. Bila dia pengikut Yesus, mintalah supaya
orang itu menyatakan Dia sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.
3. Bila
Anda diacu kepada modul ini dari modul lain, orang yang dilayani mungkin sudah
tahu apa yang ingin digarap saat ini.
Bila tidak, mohonlah supaya Tuhan menunjukkan
orang itu apa yang Dia ingin garap saat ini.
Tuhan mungkin menyatakan dalam pikiran orang itu suatu perasaan negatif
yang sering menjadi pergumulannya, suatu keyakinan salah, suatu pola kebiasaan
yang tidak sehat dalam hidupnya atau pergumulan lainnya. Bila yang ditunjukkan Tuhan adalah pola
kebiasaan tidak sehat, lihat juga “Modul 10: Mengganti Pola Kebiasaan Tidak
Sehat”.
Bila tidak ada hal yang muncul di pikiran orang
itu, tanyalah kepada Tuhan mengapa. Kemudian
tanyalah kepada orang itu apa yang dipikirkan atau dirasakan. Mungkin:
Catatan 3.1:
Tiap kali Anda memohon supaya Tuhan mengungkapkan sesuatu kepada orang itu,
tunggulah 10-15 detik. Bila orang itu
belum menceritakan apa-apa, tanyalah apakah Tuhan membawa sesuatu ke dalam
pikirannya (beberapa kemungkinan mencakup suatu kesan, pikiran atau perasaan).
Bila Tuhan sudah memunculkan sesuatu
ke dalam pikirannya, tanyalah kepada orang itu apakah ia mau menceritakan
kepada Anda. Anda tidak perlu mengetahui
segalanya, cukup mengetahui di mana kedudukan Anda didalam proses dan apa yang
akan dilakukan berikutnya.
4. Bila isu
yang akan digarap bukan suatu perasaan negatif, mohonlah supaya Yesus
mengungkapkan perasaan-perasaan yang lebih dalam kalau ada.
Catatan
4.1: Bila isu yang akan digarap adalah suatu isu theologi, atau orangnya belum
mengetahui kebenaran, mungkin ada atau tidak ada suatu perasaan yang lebih
dalam yang perlu digarap. Bila tidak ada
perasaan yang lebih dalam, orang itu mungkin hanya perlu belajar tentang
kebenaran. Untuk kedua kasus itu, lihat “Modul 12: Hidup dalam Terang”.
Tolonglah orang itu, bila perlu dan bila diinginkan, untuk memproses isu-isu
ini; atau menawarkan untuk mencarikan orang lain yang dapat menolong orang itu
memproses isu-isu ini.
Catatan
4.2: Bila ingatan dan keyakinan salah sudah terungkap saat ini, Anda mungkin
dapat melewatkan beberapa langkah berikutnya.
Akan tetapi, ada kemungkinan bahwa ada lebih dari satu keyakinan salah
didalam ingatan seseorang; dan bahwa lebih dari satu ingatan merupakan kunci ke
proses mencari kebenaranNya terhadap keyakinan salah.
5. Ajaklah
orang itu untuk menawan perasaan (-perasaan) negatif sekarang. Ini mencakup bahwa orang itu:
Bila
(salah satu) perasaan (-perasaan) yang dirasakan orang itu adalah amarah, lihat
“Lampiran 2: Bila Perasaan Negatif itu adalah Amarah” dalam modul ini.
Catatan 5.1: Orang biasanya berdoa dengan bersuara untuk langkah ini. Bila demikian, dengarkan apakah ada perasaan-perasaan tertentu dan kemungkinan adanya keyakinan salah.
Catatan 5.2: Beberapa orang
lebih suka berdoa dalam hati, dan bahkan mungkin tidak ingin menceritakan
banyak mengenai apa yang dipikirkan atau dirasakannya. Ini tidak apa-apa. Kadang-kadang bisa lebih baik, bila berdoa
bersama lawan jenis.
Mintalah orang itu menceritakan kepada Anda bila ia
merasa enak untuk melakukannya.
Misalnya, “Saya punya perasaan negatif dalam pikiran dan saya mau
menceritakannya kepada Yesus”. Metode
ini baik karena kita memohon supaya Penasihat Ajaib memberi nasihat kepada
orang itu. Tuhan tetap mampu melakukannya
sekalipun Anda sebagai fasilitator tidak tahu apa yang sedang berlangsung.
Catatan 5.3: Bila orang itu
mulai lebih banyak menganalisis daripada merasakan, dia bisa mengalami
kemacetan (tidak bisa maju). Dalam hal
ini adalah tepat untuk mengingatkan secara lemah lembut bahwa proses ini adalah
mengenai menawan perasaannya. Dan bahwa
mengkaji memakai bagian yang berbeda dari otak.
Jadi, meskipun menganalisis itu baik, tetapi tidak menolong proses ini.
Sebaliknya, orang itu mungkin tampak seperti menganalisis, ketika Yesus sebenarnya sudah
mengungkapkan kepadanya (melalui cara (-cara) apa saja ketika Tuhan berbicara
kepadanya) bagaimana berbagai hal saling terkait dalam hidupnya. Hal ini dapat merupakan bagian yang mempunyai
kuasa kuat dalam proses ini.
Faktor utamanya adalah menentukan apa yang sedang
dilakukan Yesus dan mengikut Dia.
Catatan 5.4: Dalam langkah
ini orang yang sedang dilayani adalah orang yang berbicara kepada Tuhan. Untuk langkah-langkah lain, biasanya Andalah
yang berbicara kepada Tuhan, dan orang itu memusatkan perhatiannya untuk
mendengarkan Dia dan menerima dariNya.
Kadang-kadang, untuk langkah-langkah lain, orang itu
akhirnya lebih banyak berbicara kepada Tuhan daripada mendengarkan Tuhan. Akibatnya, dia mungkin mengalami kesulitan
untuk mendengarNya.
Bila, setelah Anda berdoa (langkah 2-4), orang itu juga
berdoa dengan bersuara (bukannya mendengarkan Tuhan dan menerima dariNya), dia
mungkin tidak memahami bagaimana proses ini berlangsung. Bila proses berlangsung dengan baik, tidak
perlu menyebut apa-apa tentang dinamika ini.
Bila, sebaliknya, orang itu mengalami kesulitan untuk mendengar Tuhan, mungkin menolong bila orang itu membiarkan
Anda berdoa secara aktif (dalam langkah yang akan datang), dan dia memusatkan
perhatian untuk mendengarkan Tuhan dan menerima dariNya, baru melaporkan kepada
Anda.
Catatan 5.5: Bila orang itu
belum mengenal bagaimana mendengarkan Tuhan, dia mungkin tidak tahu kapan Tuhan
berbicara kepadanya. Tuhan berbicara
kepada kita melalui banyak cara. Salah
satunya adalah bila Tuhan memberi pikiran, kesan atau ingatan kedalam hati.
6. Tanyalah kepada orang itu apakah dia mau
untuk merasakan kembali kepedihan yang pernah dialami sebanyak yang Tuhan
inginkan sekarang untuk mejalankan proses ini.
Bila
mau, mohonlah supaya Yesus menolongnya untuk merasakan
perasaannya sekarang seperti yang diperlukan. Kemudian mohonlah
supaya Yesus memunculkan didalam pikirannya saat pertama kali ia merasa seperti ini. Inilah ingatan
orisinal. Bila perasaan ini merupakan kebiasaan dalam
hidup orang ini, Yesus mungkin mumunculkan kedalam pikiran orang itu satu ingatan kunci diantara banyak ingatan
lainnya.
Bila
orang itu tidak bersedia untuk merasakan perasaan(-perasaan) negatif, tanyalah
apakah ia bersedia untuk bertanya kepada Tuhan mengapa tidak mau. Bekerja samalah, dengan Tuhan, untuk
menggarap apa yang Dia ungkapkan. Misalnya: orang itu mungkin takut merasakan
kepedihan. Bila demikian halnya,
tanyalah kepadanya apakah ia bersedia untuk menawan ketakutannya akan
kepedihan, dan mengikuti langkah-langkah di bagian ini untuk mencari kebenaran
Tuhan untuk akar dari ketakutan itu.
Catatan 6.1:Ingatan yang
muncul pertama mungkin berasal dari pengalaman yang baru terjadi. Ingatan-ingatan yang muncul di pikiran,
tetapi bukan yang orisinal atau ingatan kunci sering memberi informasi untuk
menelusuri perasaan dan keyakinan salah.
Teruskan bertanya kepada Yesus untuk memunculkan di pikiran ingatan yang
lebih awal dimana terdapat perasaan yang serupa
seperti yang dirasakan sekarang, hingga Anda kembali ke ingatan yang “orisinal”
atau “kunci”. Dalam kebanyakan kasus ini
adalah ingatan di masa anak-anak.
Catatan 6.2: Ingatan-ingatan
yang dimunculkan Yesus di pikiran mungkin adalah ingatan-ingatan yang sering
dipikirkan orang itu. Atau
ingatan-ingatan itu merupakan pengalaman-pengalaman yang ditekan yang dilupakan
atau bahkan terdisosiasi (terputus hubungan). (Pelatihan ini tidak mencakup
Dissociative Identity Disorder (DID)[9]
).
Catatan 6.3: Orang mempunyai
bermacam-macam ingatan. Ingatan yang
bersifat emosional adalah yang paling umum.
Ingatan dapat juga mencakup kelima indera: penciuman, pendengaran,
citarasa, penglihatan dan perasaan.
Tubuh mungkin juga bereaksi melalui ketegangan otot, sakit kepala, mules
atau kram, kesulitan bernafas, sakit dan pedih didalam atau sensasi fisik lain[10].
Bila seseorang sedang mengingat sesuatu dengan salah satu reaksi fisik, tetapi
belum mempunyai ingatan visual atau bersifat emosional, tanyalah kepada Yesus
untuk mengungkapkan kepada orang itu dimana dia pertama merasakan atau
mengalami hal ini.
Catatan 6.4: Biasanya
ingatan pertama (atau pikiran lainnya) yang muncul di pikiran orang itu adalah
ingatan yang dikejar. Kadang-kadang
orang menganggap hal ini sepele, karena mereka mengira itu tidak artinya. Tolonglah dia untuk jangan menganggap sepele.
Bila
tidak ada ingatan yang muncul di pikiran, mohonlah supaya Yesus mengungkapkan
mengapa. Beberapa kemungkinan adalah:
o Bila demikian kasusnya, mohonlah supaya Tuhan memunculkan dalam pikiran orang itu ingatan pertama atau kunci dimana dia melihat seseorang berbuat demikian dan belajar bahwa inilah caranya bertindak, merasakan, berpikir atau memberi respons.
Lihat “Modul 4: Mengakui dan Berpaling dari
Dosa”.
7. Mohonlah supaya Yesus mengungkapkan keyakinan
salah yang ada dalam ingatan ini yang perlu digarap. Ini adalah keyakinan-keyakinan yang ada didalam
pikiran orang itu ketika mengalami trauma (baik itu trauma yang berat atau
ringan). Ingatlah bahwa keyakinan salah
sering dirasakan sebagai sesuatu yang benar (Lihat “Contoh-contoh: Contoh
Keyakinan Salah” di modul ini).
Catatan 7.1: Bila keyakinan salah sudah diketahui,
keyakinan tersebut akan dirasakan sangat benar pada orang yang dilayani (tidak
hanya “agak” benar). Keyakinan salah berkaitan dengan
perasaan(-perasaan) negatif yang sedang dialami. Lihat “Contoh-contoh Perasaan(-perasaan)
Negatif” dan “Contoh Keyakinan Salah” keduanya ada di modul ini.
Catatan 7.2:
Mungkin ada lebih dari satu keyakinan salah dalam ingatan. Mungkin juga ada lebih dari satu ingatan yang
merupakan kunci ke keyakinan salah atau perasaan negatif. Mohonlah supaya Yesus memunculkan dalam
pikiran, ingatan-ingatan dan keyakinan salah yang perlu digarap.
Bila orang yang dilayani sulit untuk
mengenali keyakinan salah, tanyalah apakah ia tahu apa yang sedang dipikirkan
atau rasakan selama mengingat-ingat. Bila
ia tahu, tanyalah apakah ia mau menceritakan apa saja mengenai pikiran dan
perasaan yang diingat. Mungkin lebih
mudah bagi Anda untuk menentukan suatu keyakinan sebagai keyakinan salah,
karena kemungkinan besar Anda tidak mempercayai keyakinan itu.
Bila Anda masih tetap mengalami kesulitan
intuk mengenali atau menerangkan keyakinan salah, tanyalah kepada Yesus mengapa. Beberapa
kemungkinan adalah:
·
Anda belum menemukan ingatan yang
orisinal atau kunci.
·
Orang yang dilayani punya dosa
yang belum diakui dan ditinggalkan. Bila ini kasusnya,
anjurkan dia untuk
o mengakui dosa
o memohon supaya Yesus
mengampuninya
o berpaling dari dosa.
Lihat “Modul 4: Mengakui dan Berpaling dari
Dosa”.
·
Orang itu perlu mengampuni
seseorang. Bila demikian, anjurkan dia
untuk melakukannya sekarang. Lihat
“Modul 7: Mengampuni Orang Lain” dan “Modul 8: Mengampuni Orang Tua Anda”.
·
Orang itu perlu mengampuni diri
sendiri. Lihat “Modul 9: Mengampuni dan Menerima Diri Sendiri”.
·
Ada benteng di dalam hidup orang
itu yang perlu digarap terlebih dulu. Lihat “Modul 5: Mematahkan
Benteng Di Dalam Diri Sendiri”.
8. Tanyalah kepada orang itu apakah saat ini ia
merasakan dalam ingatannya
o
perasaan-perasaan negatif
o
bahwa keyakinan-keyakinan salah ini dipercaya seolah-olah benar.
Bila
dia tidak merasakan ini sekarang, tanyalah apakah dia mau untuk merasakan perasaan negatif ini (sekali lagi) untuk sementara
waktu. Bila dia mau, mohonlah supaya
Yesus menolongnya merasakan kembali kepedihan yang pernah dialami sebanyak yang
Tuhan inginkan sekarang untuk menjalankan proses ini.
Bila
ia sudah merasakan sebagian perasaan dan
keyakinan ini, mohonlah supaya Yesus memasukkan kebenaran didalam ingatan. Tolonglah orang itu untuk membedakan apakah yang diungkapkan merupakan kebenaran. (Kebenaran akan konsisten dengan
firman Tuhan. Segala sesuatu yang
bertentangan dengan firman Tuhan bukan kebenaran).
Bila orang itu belum menangkap kebenaranNya
didalam ingatan saat dilayani, tanyalah apakah dia mau mengundang Yesus untuk
datang kedalam ingatan dan menyatakan kebenaranNya. Bila demikian, anjurkan untuk melakukan
sekarang.
Lihat “Contoh-contoh: Contoh dari Menerima
Kebenaran” didalam modul ini.
Catatan 8.1:
Orang mendengarkan suara Tuhan dengan bermacam cara. Kata-kata kebenaran mungkin muncul di
pikirannya, dia mungkin diingatkan akan suatu firman Tuhan, melihat sebuah
gambar (tentang sesuatu didalam ingatan, misalnya), atau hanya menyadari
kebenaran. Tujuan dari bermacam cara ini
adalah menerima kebenaran. Hasilnya
adalah bebas dari kepedihan akibat keyakinan salah.
Catatan
8.2: Untuk beberapa orang mungkin muncul “Yesus” yang Palsu. “Yesus” yang Palsu ini bukan menyatakan
kebenaran, melainkan kata-kata yang tidak baik atau perilaku yang tidak
baik. “Yesus” yang Palsu ini tidak bisa
menyatakan kebaikan untuk waktu yang lama.
Bila ini terjadi, tolaklah dalam nama Tuhan Yesus Kristus yang Benar
dari Nazareth.
“Yesus” yang Palsu merupakan
indikasi bahwa orang itu mempunyai konflik tentang bagaimana ia melihat Tuhan,
dia sendiri atau orang lain. Mohonlah
supaya Yesus yang Benar mengungkapkan apa konflik tersebut dan di mana
berawalnya. Ikutilah proses yang
digambarkan dalam bagian ini untuk mencari kebenaran Tuhan.
Catatan
8.3: Sebagian yang diungkapkan Yesus mungkin merupakan cara-cara dimana orang
itu bereaksi terhadap situasi yang bukan merupakan bagian dari hidup didalam
terang (1 Petrus 2: 9). Ini bisa
mencakup sumpah, penghakiman atau kutuk yang dibuatnya; hidup menurut pola
kebiasaan tidak sehat; keinginan menipu yang dipilih untuk diikuti (lihat
“Modul 11: Menemukan Rasa Aman Sejati); dan/ atau tidak mengampuni.
Bila orang itu bereaksi terhadap
situasinya dengan cara yang bersifat kegelapan dan bukan terang, anjurkan dia
untuk menyelesaikan hal-hal ini dengan tepat.
Lihatlah modul-modul yang sesuai.
Beberapa modul yang mungkin sesuai adalah: “Modul 4: Mengakui dan
Berpaling dari Dosa”, “Modul 5: Mematahkan Benteng Di Dalam Diri Sendiri”,
“Modul 7: Mengampuni Orang Lain”, Modul 8: Mengampuni Orang Tua Anda”, “Modul
11: Menemukan Rasa Aman Sejati” dan “Modul 12: Hidup dalam Terang”.
Catatan
8.4: Bila ingatan meliputi suatu rangkaian kejadian, Anda bisa menggarapnya
bagian demi bagian. Untuk tiap bagian,
mohonlah supaya Yesus mengungkapkan kejadian penting dan mengungkapkan
keyakinan salah, kemudian menyatakan kebenaranNya. Lihat “Contoh-contoh: Contoh Kebenaran yang
Diungkapkan dalam Suatu Rangkaian Kejadian” didalam modul ini.
Bila kebenaran belum diungkapkan
didalam ingatan, tanyalah Yesus mengapa.
Beberapa kemungkinan adalah:
·
Anda belum menemukan ingatan orisinal atau kunci.
·
Orang itu perlu mengampuni
diri sendiri. Lihatlah “Modul 9: Mengampuni dan Menerima Diri Sendiri”.
·
Ada benteng di dalam hidup orang
itu yang perlu digarap terlebih dulu. Lihat “Modul 5: Mematahkan
Benteng Di Dalam Diri Sendiri”.
·
Orang itu terdisosiasi[11]
dari ingatan selama proses berlangsung.
Bila ini terjadi, tentu ada alasannya.
Salah satu kemungkinan adalah bahwa kepedihan yang diderita melebihi
kemampuannya untuk mengatasinya. Dalam
hal ini, mungkin orang itu perlu bertumbuh
dalam rasa aman yang dasar dulu sebelum menggarap isu ini. Lihatlah “Modul 1: Ringkasan dan Pengantar”
dan “Modul 11: Menemukan Rasa Aman Sejati”.
·
Ada isu-isu dalam hidup Anda yang menghambat
berlangsungnya proses ini. Misalnya, Anda kuatir bahwa Anda tidak
menjalankan proses ini dengan benar; atau isu yang muncul membangkitkan suatu
isu dalam hidup Anda. Garaplah
isu-isu ini. Lakukanlah langkah-langkah
yang ada di bagian ini untuk menggarap keyakinan salah yang ada. Juga lihat modul-modul lain yang sesuai.
9. Tanyalah kepada orang itu apakah ada sesuatu didalam
ingatannya yang belum dirasakan damai.
Bila ada, mintalah supaya Yesus mengungkapkan keyakinan salah lainnya
atau perasaan negatif
yang ada didalam ingatan. Ikutilah
proses di atas untuk memperoleh pandangan Yesus mengenai hal ini.
10. Mohonlah supaya Yesus mengungkapkan kepada
orang itu bagaimana kebenaran-kebenaran diterapkan sekarang (saat ini). Bila Yesus memunculkan kedalam pikiran
ingatan-ingatan lainnya sebelum ingatan orisinal
(atau ingatan kunci yang dapat
membuka jalan menuju kebenaran), mohonlah supaya Dia mengungkapkan kebenaranNya
dalam ingatan-ingatan juga.
11. Tanyalah Yesus apa yang Dia ingin lakukan
berikutnya. Ikutilah Yesus bila Dia
membawa orang itu sampai ke ingatan-ingatan lain, bila Dia ingin orang itu
menawan perasaan-perasaan negatif lainnya atau bila Dia ingin menggarap isu-isu
lain.
12. Terapkanlah bagian-bagian yang sesuai yang
ada dalam “Modul 9: Mengampuni dan Menerima Diri Sendiri”.
13. Bersyukurlah kepada Tuhan untuk kebenaran
yang dinyatakanNya. Bersukacitalah untuk apa yang telah Tuhan lakukan.
14. Doakan doa penutup. Lihat
“Pengantar D.4” didalam “Modul 1: Ringkasan dan Pengantar”.
15. Terapkanlah bagian-bagian “Pengantar D.5 &
Pengantar D.6” dalam “Modul 1: Ringkasan dan Pengantar”.
Contoh –B
Contoh Perasaan Negatif [12]
|
TAKUT |
MARAH |
BINGUNG/
RAGU |
BERSALAH/
MALU |
|
cemas |
bermusuhan |
bertanya-tanya |
diejek |
|
gelisah
|
cemberut |
curiga |
malu |
|
gemetar |
digemparkan |
ragu-ragu |
menyesal |
|
gugup |
frustrasi |
tidak
percaya |
merasa
berdosa |
|
hati-hati |
geram |
tidak
tegas |
merasa
bodoh |
|
kuatir |
gusar |
tidak
yakin |
rasa
gagal terus |
|
malu-malu |
jengkel |
|
rasa
kurang bermutu |
|
membatu
|
jijik |
|
rasa
tak berguna |
|
menjadi
ngeri |
keras
kepala |
|
rasa
tak berharga |
|
ngeri |
marah-marahan |
|
rasa
tidak berarti |
|
panik |
mengomel |
|
rasa
tidak cakap |
|
prihatin |
meradangkan |
|
rasa
tidak cukup |
|
ragu-ragu |
pahit |
|
terhina |
|
resah |
terganggu
|
|
|
|
sifat
pengecut |
tersinggung |
|
|
|
terancam |
tertipu
|
|
|
|
terkejut |
tidak
sabar |
|
|
|
tidak
mantap |
|
|
|
|
tidak
tenang |
|
|
|
|
PEDIH |
LAIN-LAIN |
FISIK |
SEDIH |
|
diabaikan |
berbeban |
bosan |
berat
hati |
|
menderita |
congkak |
gelisah |
berhati
pilu |
|
nyeri
sekali |
dengki |
kekosongan |
kecewa |
|
putus
asa |
dikuasai |
lelah |
kecil
hati |
|
remuk
|
diluar
kendali |
lemah |
mudah
menangis |
|
sakit
|
dilupakan |
merasa
susah bergerak |
murung |
|
terluka |
dimanipulasi |
muak |
putus
asa |
|
terobek-robek |
diperalat |
tegang |
remuk |
|
tersiksa |
disalahmengerti |
terentang |
rendah |
|
|
ditolak |
tertekan |
sangat
memilukan |
|
|
iri |
|
sangat
sedih |
|
|
kalah |
|
suram |
|
|
kesepian |
|
tercekik |
|
|
kewalahan |
|
tertekan |
|
|
kuatir
|
|
tidak
bahagia |
|
|
kurang
percaya diri |
|
tidak
puas |
|
|
mengasihani
diri sendiri |
|
|
|
|
mengikat
perhatian |
|
|
|
|
menjadikan
korban |
|
|
|
|
merasa
kekurangan |
|
|
|
|
pesimis |
|
|
|
|
rasa
tidak enak |
|
|
|
|
tak
berdaya |
|
|
|
|
tak
berpengharapan |
|
|
|
|
tak
dapat menolong diri sendiri |
|
|
|
|
teraniaya |
|
|
|
|
terasing |
|
|
|
|
terpaksa |
|
|
|
|
terpukul
mundur |
|
|
|
|
tersinggung |
|
|
|
|
tertahan |
|
|
|
|
tidak
dihargai |
|
|
Contoh Keyakinan Salah
“Saya
tidak bisa apa-apa”.
“Saya
orang yang tidak bisa diterima, kecuali kalau saya …”.
“Bila
saya membuat kesalahan, saya tak pernah bisa dimaafkan”.
“Saya
harus membayar kesalahan-kesalahan saya”.
“Saya
sangat bodoh. Saya tak pernah bisa
melakukan sesuatu dengan benar dan tak pernah akan mampu”.
“Saya
orang yang brengsek”.
“Pendapat-pendapat
saya tak berharga untuk didengar”.
“Tak
seorang pun pernah mau mendengarkan saya dan tak seorang pun akan mau
mendengarkan saya”.
“Saya
tak pernah bisa melakukan [hal ini, pekerjaan ini]”.
“Tak
seorang pun akan mengasihi saya”.
“Saya
terlalu … dan tak seorang pun mau mengasihi saya”.
“Saya
orang yang tak berharga”.
Ketika
Iwan masih kecil, ia dipanggil “si tolol” oleh bapaknya. Iwan melihat dirinya diteriaki demikian di
dalam ingatan yang dimunculkan Yesus didalam pikirannya. Yang selama ini ia percayai dengan sangat
yakin adalah “Saya tak pernah bisa melakukan sesuatu dengan baik”. Saat ini Iwan hidup dalam ketakutan terus
menerus bahwa ia akan gagal dan bahwa apa yang dilakukan tak pernah baik.
Catatan: Keyakinan salah mungkin belum tentu tertanam dalam di pikiran Iwan ketika untuk pertama kali ia dikatakan “tolol”. Perasaan merusak ini mulai terpaku di pikirannya untuk pertama kali ketika ia “menerima” informasi salah ini sebagai realitas. Perasaan merusak ini berakar ketika ia menyetujui informasi salah; kesalahan tidak terdapat dalam informasi salah itu sendiri.
1. Tati mengalami perlakuan kejam ketika kecil
dan percaya bahwa sesungguhnya ia jangan dilahirkan. Ia selalu diliputi perasaan ditinggalkan,
yang kemudian berkembang menjadi perasaan ditolak dan kesepian. Ketika Yesus menyatakan kebenaran bahwa Dia
menginginkan Tati dilahirkan dan bahwa Dia menerima Tati tanpa syarat[13],
rasa malu dan pedih yang ada pada Tati hilang dan ia merasa dikasihi dan
diterima.
Didalam ingatan Yesus mengemukakan
bahwa Tati juga merasa dirinya tidak aman.
Tati percaya bahwa dengan menyingkirkan “pelindung keadaannya” ia akan
diperlakukan dengan kejam lagi. Ketika
Yesus mengatakan kebenaran kepadanya, dia menyadari bahwa dia tidak hidup dalam
situasi itu lagi. Ia juga menyadari
bahwa Yesus melindunginya, sekalipun
ia sedang diperlakukan dengan kejam dan bahwa Yesus akan selalu melindunginya.
2. Agus menderita asma (bengek) sejak
kecil. Ketika ia meminta temannya untuk
berdoa bersamanya, Agus sedang hidup dalam ketakutan. Hidupnya penuh dengan kekacauan. Ketakutan
ini mengendalikan pikiran dan tubuhnya.
Dia sering mendapat serangan asma.
Ketika Agus dan temannya berdoa, Tuhan
membimbing Agus kembali ke suatu ingatan ketika ia masih sangat kecil. Dalam ingatan itu ia mencoba untuk tidur,
tetapi takut ia akan berhenti bernafas karena asma yang dideritanya.
Dalam doa bersama tadi, Agus
mengundang Yesus masuk kedalam ingatannya.
Ia menyadari telah mempercayai bahwa sejak waktu itu “ia akan mati
setiap saat”. Ketika Yesus menyatakan
kebenaran kepada Agus, Agus menyimpulkan kembali bahwa ingatan itu adalah
pengalaman ketakutan seorang anak. Dalam
kenyataan ia tidak mati dan hingga sekarang ia masih hidup.
Toto
terlibat dalam suatu kecelakaan mobil yang berat dan menderita serangan
“flashbacks” (ingat kembali kejadiannya) dan kecemasan setelah kejadian itu. Ketika berdoa Yesus menyatakan beberapa
faktor kunci dan keyakinan (yang benar dan yang salah) dalam ingatannya. Setelah Yesus membawa kebenaran untuk tiap
bagian yang ada dalam ingatan Toto, Toto dibebaskan. Ia mengucap syukur kepada Tuhan karena menyelamatkan
hidupnya dan hidup temannya. Toto
menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan berdoa supaya Tuhan memperoleh kemuliaan
melalui dia.
Berikut
ini adalah bagan mengenai faktor-faktor kunci dan keyakinan Toto serta
kebenaran yang Tuhan nyatakan untuk tiap faktor dan keyakinan.
|
Faktor-faktor
Kunci |
Keyakinan
(Benar
atau Salah) |
Kebenaran
yang Dinyatakan Tuhan |
|
Mulai menyadari bahaya |
“Saya ada dalam bahaya”. (benar) |
Tuhan hadir di
sana. Tuhan
menyelamatkan Toto. |
|
Melihat bus makin mendekati |
“Tak seorang pun menolong saya”. (salah) |
Tuhan menolongnya. |
|
Dampak dari bus dan mobil |
“Saya akan meninggal”. (salah) |
Toto tidak meninggal. |
|
Sadar kembali
setelah kejadian tabrakan |
“Temanku
meninggal”. (salah) “Saya ingin mati juga”. (keputusan yang perlu disangkal) |
Temannya tidak
meninggal. Toto menyangkal
keputusannya. Ia memilih
untuk tetap hidup. |
|
Merawat
temannya yang mengalami luka parah |
“Saya adalah satu-satunya orang yang dapat menolong teman saya”. (salah) “Saya tak pernah bisa santai”. |
Toto satu-satunya orang yang ada untuk menolong untuk jangka waktu pendek. Tuhan juga menolong. Toto bisa santai. Tuhan yang mengendalikan. |
1. Ketika Yesus mengungkapkan kebenaran untuk
mengoreksi tiap keyakinan salah, kebenaran itu mengubah perasaan orang itu
terhadap ingatan orisinal dan semua situasi serupa dimasa lalu. Hal ini juga memberi dampak untuk semua
situasi serupa yang mungkin ada dimasa mendatang.
Akan
tetapi, kebanyakan dari kita mempunyai banyak keyakinan salah. Mengalami perubahan (transform) oleh
pembaharuan pikiran kita merupakan proses yang memakan waktu.
Kadang-kadang
setelah melalui proses kesembuhan untuk perasaan atau keyakinan tertentu, orang
kemudian mengalami perasaan atau pikiran serupa dengan yang telah digarap.
Ini
bisa berarti:
2. Lihat “Modul 10: Mengganti Pola Kebiasaan
Tidak Sehat” bila:
3. Prinisip yang diuraikan dalam modul ini dapat
dipakai dengan hasil yang luar biasa dalam hidup sehari-hari. Kita tidak perlu menunggu untuk sesuatu
menjadi luka batin dari masa lalu sebelum memperoleh pandangan Tuhan mengenai
hal ini.
Beberapa langkah untuk
memakai modul ini dalam hidup sehari-hari adalah:
a. Pilihlah
bahwa Anda menginginkan pandangan Tuhan untuk tiap hal yang berarti.
b. Mohonlah
supaya Tuhan menolong Anda menawan pikiran (dan perasaan):
4. Mohonlah
supaya Tuhan mengungkapkan semua hal yang ada didalam diri Anda yang
menghalangi Anda mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, pikiran dan kekuatan;
dan menginginkan KerajaanNya dan kebenaranNya.
Bawalah ini kepadaNya. Mohonlah
supaya Tuhan menolong Anda mengenali apa isu yang sebenarnya. Carilah penyelesaianNya untuk tiap isu. Lihatlah modul-modul lain bila sesuai.
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis.”
(Roma 12: 15).
“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” (Matius 5: 4).
“Tetapi Allah, yang menghiburkan orang yang rendah
hati, telah menghiburkan kami dengan kedatangan Titus.” (2 Korintus
7: 6).
“Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara,
bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan
berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus
telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah
meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” (1 Tesalonika 4: 13-14).
“…kita bermegah dalam pengharapan akan menerima
kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu
saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa
kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan
tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan,
karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah
dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:2b-5).
Keterangan
Singkat - Bersedih karena Kehilangan Seseorang atau Sesuatu
Kerugian: kehilangan sesuatu atau orang yang dikasihi karena kecelakaan, kematian,
hubungan putus, perpindahan atau hal lainnya.
Lihat “Contoh-contoh dan Macam-macam Kehilangan” di
halaman berikut.
Kesedihan: penderitaan perasaan tidak menyenangkan yang sangat dalam disebabkan oleh
hal-hal seperti kehilangan, bencana atau kerugian. Kesedihan melibatkan kedukaan
yang sangat mendalam. Kata ini berasal
dari kata kerja dalam bahasa Latin yang berarti “membebani”.
Dukacita: merasa atau menyatakan kesedihan. Dukacita melibatkan mengingat dan
berpikir tentang kehilangan. Hal ini
membuat seseorang merasa takut atau tidak nyaman.
Kesedihan adalah proses dengan tahap-tahap yang
jelas. Tahap-tahap ini dapat merupakan
siklus. Tahap-tahap kesedihan mencakup:

-
Secara fisik tidak ada tetapi secara psikologis ada: Anggota keluarga yang tinggal di luar
negeri, anak masuk perguruan tinggi di kota lain, suami bekerja di kota lain, pindah
dan meninggalkan keluarga dan/ atau teman-teman akrab, anggota keluarga atau
teman akrab pindah ke lokasi baru
-
Secara fisik ada tetapi secara psikologis tidak ada: Ayah atau ibu yang kehilangan ingatan, teman
hidup setelah terserang stroke, saudara yang menjadi jauh akibat ia mengalami
depresi
Proses Langkah-demi-Langkah [14]- Bersedih karena Kehilangan Seseorang atau Sesuatu
Catatan: Lihat “Modul 1: Ringkasan dan Pengantar” untuk
memulai dan mengakhiri langkah-langkah, dan keterangan tentang bagaimana
memakai modul-modul untuk berbagai keadaan.
Disarankan supaya seorang teman yang dapat dipercaya menolong Anda melakukan proses ini. Hubungan dengan seseorang merupakan bagian penting untuk menggarap kesedihan dan kehilangan [15].
1. Ketahuilah bahwa perasaan pedih, marah,
bersalah, kehilangan, takut, bingung dan sebagainya adalah wajar dalam proses
berduka. Tanyalah kepada Tuhan apakah
Anda telah menekan perasaan Anda.
Mohonlah supaya Tuhan menolong untuk mengenali bagaimana perasaan
Anda.
2.
Ketika Anda mengenali perasaan Anda, bawalah perasaan itu kepada
Tuhan. Katakan kepadanya bagaimana Anda
merasa. [16]
Ajukanlah kepadaNya pertanyaan-pertanyaan Anda.
Dengarkan pandanganNya.
3.
Bila ada perasaan yang belum mendapatkan penyelesaian, khususnya marah,
rasa bersalah atau takut, doakan.
Bila ada perasaan bersalah yang belum diselesaikan, mohonlah supaya Tuhan
menolong Anda untuk memisahkan rasa bersalah yang benar dari rasa bersalah yang
tidak benar. Untuk rasa bersalah yang benar,
akui dan tinggalkan dosa yang terkait. Lihat “Modul 4: Mengakui dan Berpaling
dari Dosa”. Lihat juga Mazmur 32.
Terimalah dan bersukacitalah karena pengampunan dari Tuhan. Lihat juga Bagian A yang ada di modul
ini. Ketika rasa bersalah yang tidak benar
dikenali, biasanya rasa bersalah itu terselesaikan. Bila tidak, lihat Bagian B dalam modul
ini.
Bila ada amarah yang belum mendapatkan
penyelesaian, lihat “Lampiran 2: Ketika Perasaan Negatif adalah Amarah” dan Bagian A
dan B (bila sesuai) yang ada di modul ini.
Bila ada ketakutan yang belum mendapatkan
penyelesaian, lihat Bagian B – Luka Batin Berdasarkan Keyakinan Salah di modul
ini. Lihat juga Lampiran 2: Hidup Diluar
Ketakutan yang ada di “Modul 10: Mengganti Pola Kebiasaan yang Tidak
Sehat”. Dan lihat Lampiran 1: Tidak Lagi
Menjadi Korban dalam “Modul 12: Hidup dalam Terang”.
4.
Bila ada trauma dimana Anda terlibat dalam kehilangan (misalnya, syok ketika mendapat berita
tentang kehilangan), doakan tiap bagian yang berarti dari
trauma. Mohonlah supaya Tuhan
mengungkapkan pandanganNya untuk tiap hal.
Lihat Bagian B Luka Batin Berdasarkan Keyakinan Salah di modul ini.
5.
Bila Anda mengalami depresi berkepanjangan, mohonlah supaya Tuhan
menunjukkan sebab-sebabnya. Doakan tiap
perasaan negatif yang belum mendapatkan
penyelesaian. (Lihat juga langkah 3).
6.
Mohonlah supaya Tuhan menunjukkan adanya “kehilangan yang tersembunyi”
yang ada dalam perkara itu. Bersedihlah
untuk kehilangan ini juga.
7.
Jangan menyepelekan kehilangan Anda, tetapi bawalah kehilangan itu
kepada Tuhan. Ceritakan kepadaNya
bagaimana perasaan Anda. Mohonlah supaya
Dia mengangkat kepedihan Anda. Mohonlah
supaya Dia memberikan pandanganNya untuk tiap hal dari kehilangan itu.
8.
Bila ada situasi yang rasanya belum beres atau belum ditangani dengan
baik, bicarakan hal ini dengan Tuhan. Ceritakan
kepadaNya bagaimana perasaan Anda.
Doakan untuk ingatan-ingatan yang belum beres. Mohonlah supaya Tuhan memberikan pandanganNya
kepada Anda. Mohonlah supaya Tuhan
menunjukkan tindakan apa lagi perlu dilakukan yang dapat menolong Anda untuk
membereskan ingatan-ingatan dengan cara sehat.
9.
Mohonlah supaya Tuhan menunjukkan apakah Anda menanggung beban kepedihan
orang lain. Bila demikian, mintalah
supaya Dia yang menanggung beban itu, dan menunjukkan kepada Anda, langkah demi
langkah, cara yang Dia inginkan Anda terlibat.
Bila sulit untuk menyerahkan beban ini, tanyalah Tuhan apa
sebabnya. Garaplah isu-isu yang Dia
ungkapkan. Lihat modul-modul yang
sesuai.
10.
Teruskan melakukan Bagian A yang ada di modul ini.
Follow-up -
Bersedih karena Kehilangan Seseorang atau Sesuatu
1.
Ingatlah bahwa bersedih adalah suatu proses.
2. Mohonlah
supaya Tuhan meneruskan untuk berjalan bersama Anda melakukan proses ini. Mohonlah supaya Dia menolong Anda terus melakukan langkah berikutnya.
3.
Ceritakan selalu kepada Tuhan bagaimana perasaan Anda. Mohonlah supaya Tuhan terus menyatakan pandanganNya
kepada Anda. Bacalah Mazmur (dan
bagian-bagian lain dari Alkitab) untuk mendapatkan firman Tuhan yang sesuai.
4.
Mohonlah supaya Tuhan menolong Anda mengembangkan suatu relasi dengan
seseorang yang bersedia mendengarkan Anda setiap saat.
5.
Teruskan menggarap tiap bagian dari proses bersedih sambil memohon
kepada Tuhan untuk pandanganNya serta meminta Dia untuk memikul kepedihan Anda
(Yesaya 53: 4-5).
6.
Ucaplah syukur untuk pertolonganNya.
7.
Bila memungkinkan, berolahragalah secara
teratur.
Penggambaran
Proses
Modul 6
– Lampiran 1. Bersedih karena Kehilangan
Seseorang atau Sesuatu
§
Catatan: Disarankan supaya seorang teman
yang dapat dipercaya menolong Anda melakukan proses ini. Hubungan
dengan seseorang merupakan bagian penting untuk menggarap kesedihan dan
kehilangan. §
Doa pembukaan §
Ketahuilah bahwa
perasaan pedih, marah, bersalah, kehilangan, takut, bingung dan sebagainya
adalah wajar dalam proses berduka.
Tanyalah kepada Tuhan apakah Anda telah menekan perasaan Anda. Mohonlah supaya Tuhan menolong untuk mengenali bagaimana perasaan Anda. §
Ketika Anda mengenali perasaan Anda, bawalah perasaan itu kepada
Tuhan. Katakan kepadanya bagaimana Anda merasa. Ajukanlah kepadaNya pertanyaan-pertanyaan
Anda. Dengarkan pandanganNya. §
Bila ada perasaan yang belum mendapatkan
penyelesaian, khususnya marah, rasa bersalah atau takut, doakan. §
Bila ada trauma dimana Anda terlibat dalam
kehilangan (misalnya, syok ketika mendapat berita tentang kehilangan), doakan tiap bagian yang berarti
dari trauma. Mohonlah supaya Tuhan
mengungkapkan pandanganNya untuk tiap hal. §
Bila Anda mengalami depresi berkepanjangan, mohonlah
supaya Tuhan menunjukkan sebab-sebabnya. Doakan
tiap perasaan negatif yang belum mendapatkan penyelesaian. §
Mohonlah supaya Tuhan
menunjukkan adanya “kehilangan yang
tersembunyi” yang ada dalam perkara itu. Bersedihlah
untuk kehilangan ini juga. §
Jangan menyepelekan kehilangan Anda,
tetapi bawalah kehilangan itu kepada Tuhan. Ceritakan kepadaNya bagaimana perasaan Anda. Mohonlah supaya Dia mengangkat kepedihan Anda.
Mohonlah supaya Dia memberikan pandanganNya
untuk tiap hal dari kehilangan itu. §
Bila ada situasi yang rasanya belum beres atau belum
ditangani dengan baik, bicarakan
hal ini dengan Tuhan. Ceritakan kepadaNya bagaimana
perasaan Anda. Doakan untuk ingatan-ingatan yang belum
beres. Mohonlah supaya Tuhan
memberikan pandanganNya kepada
Anda. Mohonlah supaya Tuhan
menunjukkan tindakan apa lagi perlu dilakukan yang dapat
menolong Anda untuk membereskan ingatan-ingatan dengan cara sehat. §
Mohonlah supaya Tuhan
menunjukkan apakah Anda menanggung
beban kepedihan orang lain. Bila
demikian, mintalah supaya Dia yang menanggung
beban itu, dan menunjukkan kepada Anda, langkah demi langkah, cara yang Dia inginkan Anda
terlibat. Bila sulit untuk
menyerahkan beban ini, tanyalah Tuhan apa sebabnya. Garaplah isu-isu yang Dia ungkapkan. Lihat modul-modul yang sesuai. §
Teruskan melakukan Bagian A yang ada Modul 6. §
Doa peutup §
Follow-up: lihat Lampiran 1 dalam Modul 6.
Bila
Anda menolong seseorang menggarap kesedihan dan kehilangan, sebaiknya Anda:
·
Ada bersama dia (Salah satu contoh
mengenai hal ini ada dalam Ayub 2: 13).
·
Menahan keinginan untuk mencoba “menolong” dengan memberi nasihat atau menyatakan
kebenaran.
·
Mendengar secara aktif. Memperhatikan tanda-tanda non-verbal. Mengatakan kembali kepadanya
apa yang dikatakan. Dapatkan konfirmasi
dari orangnya bahwa Anda mengerti apa yang ingin dikatakan.
·
Katakan bahwa perasaannya benar. Jangan mendiamkan kesedihan.
·
Perlihatkan bahwa Anda peduli.
Bertindaklah dengan tulus.
·
Tawarkan
pengharapan dan penghiburan (2 Korintus 1: 4).
·
Mengajaknya
untuk membawa perasaannya kepada “Tuhan sumber segala penghiburan” (2 Korintus
1: 3).
·
Mencoba
menolong orang itu untuk melakukan langkah berikutnya untuk memproses kesedihan.
Tunggulah akan waktu Tuhan.
Jangan coba mempercepat menghilangkan
kesedihan.
Lampiran 2. Bila
Perasaan Negatif adalah Amarah
Keterangan
Singkat – Bila Perasaan Negatif adalah Amarah
Biasanya amarah bukanlah perasaan negatif pertama yang muncul
dalam suatu situasi.
Beberapa amarah berakar pada kebenaran. Meskipun demikian, kita diperintah untuk, “janganlah
matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” (Efesus 4:26b).
Orang tidak dirancang menanggung amarah untuk
waktu yang lama. Sifatnya merusak. Lagipula “…sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran
di hadapan Allah” (Yakobus 1:20).
Bersamaan dengan mengatasi amarah, Anda (atau
orang dengan siapa Anda berdoa bersama) juga perlu menyerahkan sikap
menghakimi, tidak mengampuni dan keinginan untuk membalas dendam. Lihat “Module 5: Mematahkan
Benteng Di Dalam Diri Sendiri” dan “Modul 7: Mengampuni Orang Lain”.
Proses Langkah-demi-Langkah
- Bila Perasaan Negatif Anda adalah
Amarah
1. Mohonlah
supaya Tuhan mengungkapkan perasaan negatif apa yang ada dibelakang
amarah Anda.
2. Ikutilah
proses kesembuhan yang diuraikan dalam Bagian A atau B dalam modul ini (yang
sesuai dengan yang sedang digarap), dimulai dengan perasaan dibelakang amarah
Anda.
Bila Anda melakukan Bagian A, tanyalah kepada
Tuhan apakah perasaan dibelakang amarah Anda didasarkan seluruhnya pada hal
benar atau didasarkan, seluruhnya atau sebagian, pada keyakinan salah. Bila ada keyakinan salah yang berkaitan,
lihat juga Bagian B – Luka Batin Berdasarkan Keyakinan Salah di modul ini.
3. Putuskan
apakah Anda bersedia menyerahkan amarah Anda.
Kadang-kadang menyerahkan amarah perlu dilakukan sebelum melanjutkan
proses kesembuhan. Disaat lain, Tuhan
mungkin ingin terlebih dulu mengatakan kebenaran, mengoreksi keyakinan salah
yang menyebabkan perasaan dibelakang amarah.
Bila Anda belum bersedia menyerahkan amarah Anda, mungkin Anda merasa
bahwa amarah itu perlu untuk melindungi Anda.
4. Bila
masih ingin melakukan proses ini, baik Anda bersedia atau tidak bersedia
menyerahkan amarah Anda:
Proses Langkah-demi-Langkah – Berdoa Bersama Seseorang bila Perasaan Negatifnya adalah Amarah
1. Mohonlah supaya Tuhan mengungkapkan perasaan
negatif apa yang ada dibelakang amarah.
2. Ikutilah
proses kesembuhan yang diuraikan dalam Bagian A atau B yang ada di modul ini
(yang sesuai dengan yang sedang digarap), dimulai dengan perasaan negatif dibelakang amarah orang
itu.
Bila Anda melakukan Bagian A, tanyalah kepada
Tuhan apakah perasaan negatif dibelakang amarah orang itu didasarkan seluruhnya pada
hal benar atau didasarkan, seluruhnya atau sebagian, pada keyakinan salah. Bila ada keyakinan salah yang berkaitan,
lihat juga Bagian B – Luka Batin Berdasarkan Keyakinan Salah di modul ini.
3. Tanyalah
kepada orang itu apakah ia bersedia menyerahkan amarahnya. Kadang-kadang menyerahkan amarah perlu
dilakukan sebelum melanjutkan dengan proses kesembuhan. Disaat lain, Tuhan mungkin ingin terlebih
dulu mengatakan kebenaran, mengoreksi keyakinan salah yang menyebabkan perasaan
negatif dibelakang
amarah. Bila orang itu belum bersedia
menyerahkan amarahnya, mungkin ia merasa bahwa amarah itu perlu untuk
melindunginya.
4. Bila
orang itu masih ingin melakukan proses ini, baik ia bersedia atau tidak
bersedia menyerahkan amarahnya:
Penggambaran Proses
Modul 6 – Lampiran 2.
Bila
Perasaan Negatif adalah Amarah
§
Doa pembukaan §
Mohonlah supaya Tuhan mengungkapkan perasaan negatif apa yang ada dibelakang amarah Anda. o
Memohon kepada Tuhan untuk menunjukkan bagaimana perasaan Anda pas sebelum Anda menjadi marah
(baik yang terjadi baru-baru ini atau yang dulu)
bisa memudahkan proses. §
Ikutilah proses kesembuhan yang diuraikan dalam
Bagian A atau B dalam Modul 6 (yang sesuai dengan yang sedang digarap),
dimulai dengan perasaan dibelakang amarah Anda. §
Putuskanlah apakah Anda bersedia menyerahkan amarah Anda. Kadang-kadang menyerahkan amarah perlu
dilakukan sebelum melanjutkan proses kesembuhan. Disaat lain, Tuhan mungkin ingin terlebih
dulu mengatakan kebenaran, mengoreksi keyakinan salah yang menyebabkan
perasaan dibelakang amarah. Bila
Anda belum bersedia menyerahkan amarah Anda, mungkin Anda merasa bahwa
amarah itu perlu untuk melindungi Anda.
Bila
masih ingin melakukan proses
ini, baik Anda bersedia atau tidak bersedia menyerahkan amarah Anda: §
Doa penutup
Lampiran
3. Dasar Alkitabiah Singkat untuk Mencari Kesembuhan dari Luka Batin [17]
Dimana Letak Akar-akar Saya?
“dan kamu berakar
serta berdasar di dalam kasih. Aku
berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan
dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal
kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.” (Efesus 3:17b-19a).
Banyak di antara kita berakar, setidaknya
sebagian, didalam sesuatu disamping kasih Kristus. Akar-akar lain dapat terdiri dari perasaan
takut, malu, ditinggalkan, tidak berdaya, kotor, tidak berharga atau
bingung. Sebagian dari perubahan yang
Yesus ingin lakukan didalam diri kita adalah mengeluarkan dan membebaskan kita
dari akar-akar kedagingan (berdasarkan sifat-sifat manusia) dan menggantikannya
dengan akar-akar didalam Dia: KasihNya
dan kebenaranNya.
Tuhan menginginkan supaya kita mengalami hal memahami dan mengetahui
kasihNya, untuk tiap bagian dari hidup kita.
Anggapan kita yang salah cenderung membuat kita membaca ayat-ayat tadi
(Efesus 3: 17-19a) sebagai pemahaman yang intelektual (sebagai doktrin) saja
mengenai kasih Tuhan, padahal kata-kata Alkitab (dalam bahasa asli, katalambano dan ginosko) mencakup suatu pengetahuan berdasarkan pengalaman dan hubungan yang menembus seluruh
keberadaan kita (termasuk perasaan kita).
Seberapa banyak dari saya yang Yesus ingin perbaharui?
“yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang
dahulu, harus menanggalkan manusia lama,
yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di
dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan
menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:22-24).
Manusia lama, yang harus kita
tanggalkan, mencakup tidak hanya tindakan berdosa, tetapi juga pola kebiasaan
kedagingan dalam pikiran, perasaan dan reaksi. Banyak dari pola kedagingan ini diterima
sebagai hal yang begitu biasa di antara orang Kristen, sehingga orang tidak
sungguh-sungguh memperhatikan kenyataan bahwa pola itu adalah bagian dari manusia
lama yang diperintahkan untuk
ditanggalkan! Atau, karena usaha untuk
mengatasinya hanya sampai pada tahap pengenalan (kognitif) sehingga hasilnya
kurang memuaskan, orang berkesimpulan bahwa Yesus ternyata tidak bermaksud
untuk mengubah bagian tersebut dalam kehidupannya. Bisa juga terjadi karena orang itu hidup dengan perasaan gagal yang kronis.
Firman Tuhan tidak
menguraikan tiap tehnik yang dapat atau sebaiknya kita pakai supaya “diperbaharui di dalam roh dan pikiran kita”. Tuhan
bermaksud supaya kita “berusaha” (2
Petrus 1: 5; 3: 14) untuk diubah kedalam citraNya; dengan kata lain, memakai semua cara yang terbukti
efektif, supaya kita mengalami kebenaran Kristus dan menerapkannya didalam tiap aspek dari
kehidupan kita.
Apakah Tuhan sungguh ingin agar saya memperhatikan dan menganalisis respons perasaan
saya?
“Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun
oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan
menaklukkannya kepada Kristus” (2 Korintus 10:5).
“Anak kalimat pan hypsoma (tiap keinginan [“setiap kubu”])
mengacu kepada tiap tindakan atau sikap
manusia yang menjadi penghalang bagi pengenalan
akan Allah yang membebaskan, yang terdapat didalam injil Kristus yang
disalibkan, dan karena itu tetap mengikat orang untuk berbuat dosa. Kata-kata yang artinya menyerupai yang tadi
adalah pan noema ("segala
pikiran"). Paulus mungkin
mengartikan ini sebagai tiap siasat manusia atau rancangan buruk yang untuk sementara menghalangi rencana
ilahi”. (The Expositor’s Bible Commentary)
Tidak hanya ide-ide, tetapi juga perasaan kita dapat
membentuk hambatan (di dalam diri sendiri) untuk dapat hidup menurut kehendak Tuhan. Kita dipanggil untuk menaklukkan tiap hambatan
dan membawanya kepada Kristus.
Tidak
dapatkah saya hanya melupakan masa lalu dan melangkah maju?
“Didiklah
orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya
pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6).
Pendidikan yang diterima seseorang
ketika masih anak dengan sendirinya mempunyai pengaruh besar pada pola kebiasaan ketika ia dewasa. Hal ini benar, tidak hanya untuk pendidikan
formal dan terarah, tetapi lebih-lebih untuk “pelajaran-pelajaran” informal yang
dipelajari dalam interaksi dan pengalaman tiap hari.
Seseorang dapat “diajarkan” hal-hal
salah oleh orang-orang yang melakukan tindakan berdosa, dan juga oleh reaksinya sendiri (kedagingan),
terhadap kejadian-kejadian negatif. Sejauh
seseorang hidup berdasarkan “akar-akar” kesalahan ini, Kristus ingin secara
efektif memasukkan kebenaran-Nya supaya
Efesus 4: 22-24 dapat menjadi realitas yang hidup, dan bukan hanya sekedar
teori yang bersifat doktrin.
Apakah Tuhan ingin berkomunikasi dengan saya secara langsung?
“Berserulah kepada-Ku pada
waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.” (Mazmur 50:15).
“Bila ia berseru
kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan
meluputkannya dan memuliakannya.” (Mazmur 91:15).
Tuhan suka berkomunikasi dengan anak-anakNya. Bila kita datang kepadaNya ketika mengalami
kesusahan dan memohon supaya Dia bekerja demi kemuliaanNya, Dia suka menjawab
kita dan menyatakan lebih banyak mengenai
kebenaran-, kasih- dan kuasa-Nya, didalam situasi sukar itu.
Lampiran
4. Mencari Kesembuhan Ilahi Akibat
Trauma
Dasar
Alkitabiah – Mencari Kesembuhan Ilahi Akibat Trauma
“Biarlah bergirang dan
bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang
mencintai keselamatan dari pada-Mu selalu berkata: ‘Allah itu besar!’ Tetapi
aku ini sengsara dan miskin – ya Allah, segeralah datang! Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan
aku; ya TUHAN, janganlah lambat datang!” (Mazmur 70: 5-6).
“Keinginan orang-orang yang tertindas telah
Kaudengarkan, ya TUHAN; Engkau menguatkan hati mereka, Engkau memasang
telinga-Mu, untuk memberi keadilan kepada anak yatim dan orang yang
terinjak; supaya tidak ada lagi seorang manusia di bumi yang berani
menakut-nakuti” (Mazmur 10:17-18).
“Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab
aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka
mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN
mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling
orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Kecaplah
dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah
orang yang berlindung pada-Nya!” (Mazmur 34:5-9).
“Tetapi sesungguhnya, penyakit
kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal
kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan
kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan
keselamatan bagi kita ditimpakkan depadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yesaya 53:4-5).
“Berbahagialah orang yang
berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Matius 5:4).
Keterangan
Singkat – Mencari Kesembuhan Ilahi Akibat Trauma
Tuhan ingin mengungkapkan pandanganNya kepada orang yang sungguh-sungguh
mencariNya. Bagi semua pengikut Isa Al
Masih, Dia juga ingin memberikan rasa damai dan kebebasan dari ketakutan.
Waktu trauma terjadi, kita diberikan kesempatan besar untuk mencari
pandangan Tuhan.
Penggambaran Proses – Mencari
Kesembuhan Ilahi Akibat Trauma

____________________________________________________________
Proses langkah-demi-langkah[18] – Mencari Kesembuhan Ilahi
Akibat Trauma
Catatan:
§
Lihat “Modul 1: Ringkasan dan Pengantar” untuk memulai dan mengakhiri
langkah-langkah, dan keterangan tentang bagaimana memakai modul-modul untuk berbagai
keadaan.
§
Melayani dengan belas kasihan. Juga
menjadi pendengar yang baik. (Dalam Modul 1, Bagian C.1. ada prinsip-prinsip dasar untuk melayani
orang.)
§
Kalau Anda sedang memohon
kepada Tuhan supaya menunjukkan sesuatu kepada orang yang dilayani, tunggu 5-10
detik, lalu bertanya kepada mereka apa hasilnya.
§
Mereka tidak perlu menceritakan semua yang Tuhan tunjukkan. Cukup kalau Anda tahu dimana mereka berada dalam
proses doa ini.
1. Bertanyalah kepada mereka apakah ingin didoakan mengenai perasaan
traumanya. Jelaskan
bahwa Tuhan ingin kita datang kepadaNya dan meminta pandanganNya.
§
Mohonlah supaya Tuhan
memimpin prosesnya dan melindungi semua orang yang turut berdoa.
§
Dalam nama Isa Al Masih,
ikatlah semua roh jahat yang terlibat. Juga
mohonlah supaya Tuhan menyingkirkan semua kuasa kegelapan agar tidak
menghalangi pelayanan.
(Untuk penjelasan lebih dalam, lihat juga Modul 1,
bagian D.1.)
2. Mohonlah
supaya Tuhan mengingatkan mereka akan peristiwa
pertama yang belum terasa damai dalam trauma itu. Lalu, bertanyalah kepada mereka apakah Tuhan
sudah menujukkannya.
Untuk
langkah 3-8, lihat juga Modul 6.
3. Kalau
peristiwa pertama sudah ditunjukkan, mohonlah supaya Tuhan mengingatkan mereka apa saja perasaan dan pikiran mereka dalam
peristiwa itu. Lalu, bertanyalah
kepada mereka apakah Tuhan sudah mengingatkan mereka akan perasaan dan pikiran mereka itu.
4. Kalau
mereka sudah diingatkan, mohonlah supaya Tuhan menolong mereka untuk merasakan dan memikirkan (sejauh mana Tuhan
inginkan) apa saja yang dirasakan dan dipikirkan dalam peristiwa pertama itu
(walaupun secara logika mereka menilai pikiran itu tidak benar). Lalu, bertanyalah kepada mereka apakah mereka
sedang merasakan dan memikirkan perasaan dan pikiran yang terjadi dalam
peristiwa pertama.
5. Kalau
perasaan dan pikiran yang terjadi dalam peristiwa pertama sedang dirasakan dan
dipikirkan, mohonlah supaya Tuhan mengingatkan saat pertama mereka merasakan atau berpikir seperti ini. Lalu, bertanyalah kepada mereka apakah Tuhan
sudah mengingatkan saat pertama mereka merasa demikian. (Kalau mereka baru merasakan seperti ini
dalam peristiwa pertama dalam trauma, loncatlah ke langkah 7.)
6. Kalau
ada ingatan pertama (atau ingatan kunci – suatu perasaan atau pikiran yang
merupakan kebiasaan dalam hidup mereka):
§
Mohonlah supaya Tuhan
mengingatkan mereka apa saja perasaan dan
pikiran mereka dalam ingatan itu. Lalu,
bertanyalah kepada mereka apakah Tuhan sudah mengingatkan mereka akan perasaan
dan pikiran mereka itu. (Mirip dengan langkah 3.)
§
Kalau mereka sudah diingatkan, mohonlah supaya Tuhan menolong mereka
untuk merasakan dan memikirkan (sejauh
mana Tuhan inginkan) apa saja yang dirasakan dan dipikirkan dalam ingatan itu
(walaupun secara logika mereka menilai pikiran itu tidak benar). Lalu, bertanyalah kepada mereka apakah mereka
sedang merasakan dan memikirkan perasaan dan pikiran yang terjadi dalam ingatan
itu. (Mirip dengan langkah 4.)
§
Ikutilah “Proses Mengundang
Tuhan ke dalam Ingatan.”
Proses Mengundang Tuhan
ke dalam Ingatan: §
Kalau perasaan dan pikiran yang terjadi dalam ingatan sedang
dirasakan dan dipikirkan, bersama
orang yang dilayani mengundang
Tuhan ke dalam ingatan ini: o Memohon supaya Tuhan menunjukan pandanganNya dan
kebenaranNya dalam ingatan ini.
o
Memohon juga supaya Tuhan menunjukan dimana Dia berada dalam
ingatan ini. o Untuk semua perasaan kurang enak yang berakar dalam sesuatu yang benar
(seperti rasa kehilangan), memohon
supaya Tuhan menanggung beban ini.
(Lihat
Modul 6, bagian A.) §
Bertanyalah kepada mereka apakah mereka sudah mempunyai pandangan
Tuhan dalam ingatan ini. Juga
bertanyalah kepada mereka kalau mereka sudah
merasa damai dalam seluruh
ingatan ini. o Kalau mereka belum
merasa damai, teruslah menolong mereka untuk menawan perasaan dan pikiran,
membawanya kepada Tuhan, dan mencari kebenaranNya. (Lihat Modul 6 untuk penjelasan lebih
lanjut.) Catatan: Masih berkaitan dengan mencari rasa
damai dalam ingatan adalah: §
Masih ada orang yang belum diampuni. (Lihat
Modul 7.) §
Masih ada dosa yang belum diakui.
(Lihat Modul 4.) §
Adanya kehilangan yang
tersembunyi.
(Lihat Modul 6, Lampiran 1.) §
Adanya sumpah,
penghakiman, hubungan ketakutan, dan benteng lain dalam diri mereka. (Lihat Modul 5.) §
Adanya hal-hal lain yang perlu digarap. (Lihat
modul-modul yang cocok. Lihat pedoman memilih modul, dalam Modul 1
Lampiran 1.)
_____________________________________________________________________________________
7. Mohonlah
supaya Tuhan menolong mereka untuk merasakan
dan memikirkan sekali lagi (sejauh mana Tuhan inginkan) apa saja yang dirasakan
dan dipikirkan dalam peristiwa pertama.
Lalu bertanyalah kepada mereka apakah mereka sedang merasakan dan
memikirkan perasaan dan pikiran yang terjadi dalam peristiwa itu. Ikutilah “Proses Mengundang Tuhan ke dalam
Ingatan.” (Dalam langkah 6.)
8. Kalau
mereka sudah merasa damai dalam seluruh peristiwa pertama, mohonlah supaya
Tuhan menunjukkan peristiwa berikutnya
yang belum terasa damai. Kalau ada
peristiwa berikut yang belum terasa damai, garaplah langkah 3-7 untuk peristiwa
itu. Teruskanlah sampai semua peristiwa
dalam trauma sudah terasa damai.
9. Mohonlah
supaya Tuhan mengungkapkan kepada mereka bagaimana
kebenaran Tuhan yang ditunjukkan dapat diterapkan dalam kehidupan mereka
sekarang dan seterusnya. Bertanyalah
kepada mereka apakah Tuhan sudah berbicara mengenai soal itu.
10. Mohonlah supaya Tuhan menunjukkan kepada
mereka kalau masih ada orang yang belum
mereka ampuni.
§
Kalau ada, tanyakanlah kepada
mereka apakah mereka merasa siap sekarang untuk sungguh-sungguh mengampuni dan
memberkati orang tersebut.
o Kalau mereka sudah siap, ajaklah dia untuk mengampuni dan memberkati orang
tersebut sekarang.
o
Kalau mereka merasa masih sulit mengampuni orang itu, lihatlah Modul 7.
11.
Mohonlah supaya Tuhan menunjukkan kepada mereka semua rasa kehilangan (termasuk kehilangan yang tersembunyi). (Lihat Modul 6, Lampiran 1.)
§
Kalau ada, mohonlah supaya Tuhan menolong mereka sekarang untuk
merasakan (sejauh mana Tuhan inginkan) semua perasaan dan pikiran itu.
o
Kalau sedang dirasakan,
·
Mohonlah supaya Tuhan memikul
beban itu
·
Mohonlah supaya Tuhan
membicarakan apa saja yang Dia inginkan.
12. Mohonlah supaya Tuhan menunjukkan apa lagi yang berkaitan dengan trauma itu
yang perlu digarap. Mungkin ada
sumpah, penghakiman, hubungan ketakukan, dll.
Untuk setiap hal, bersama orang yang dilayani tangkaplah, bawalah kepada
Isa Al Masih, dan carilah pandanganNya. (Lihat
modul-modul yang cocok. Ada pedoman
memilih modul dalam Modul 1 Lampiran 1.)
13.
Mohonlah supaya Tuhan menunjukkan apakah masih ada rasa takut berkaitan dengan trauma.
Kalau ada, bersama orang yang dilayani tangkaplah, bawalah kepada Isa Al
Masih, dan carilah pandanganNya. Garaplah
semua ingatan yang berkaitan, seperti yang dijelaskan dalam langkah 3-8. Mohonlah supaya Tuhan menunjukkan apakah
mereka perlu merasa takut (dan perasaan/tindakan lain apa yang cocok
dirasakan/ditindakkan). (Lihat Modul 10
Lampiran 2, Modul 11, dan Modul 12 Lampiran 1.)
14. Mohonlah supaya Tuhan
menunjukkan kalau masih ada beban trauma
yang dipikul sendiri. Kalau masih
ada beban trauma ini, mohonlah supaya Tuhan menolong orang ini untuk merasakan sekarang (sejauh mana Tuhan
inginkan) beban trauma ini. (Selain
dirasakan secara emosional, mungkin hal ini juga dirasakan secara fisik.) Sambil dirasakan, ajaklah
mereka untuk memberi beban ini kepada Isa Al Masih. Mohonlah
supaya Isa Al Masih menanggung beban trauma ini.
15. Doakanlah doa penutup. Dalam doa ini:
· Ucaplah syukur kepada Tuhan untuk apa yang telah dilakukanNya.
· Berdoalah dalam nama Isa Al Masih untuk mengusir roh jahat apapun yang mungkin dulu mempunyai kesempatan untuk mengganggu orang itu (Efesus 4: 27), tetapi sekarang hal ini sudah beres. Perintahkan dalam nama Isa Al Masih tiap roh jahat tersebut untuk pergi ke tempat yang ditunjuk Isa Al Masih dan agar jangan pernah kembali lagi.
· Mohonlah supaya Tuhan memberkati bagian-bagian (didalam diri orang itu) yang sudah disembuhkan oleh Tuhan selama pelayanan Anda.
· Mohonlah supaya Tuhan menolong orang itu agar atas kehendaknya sendiri bisa masuk ke bagian-bagian yang sudah disembuhkan.
· Mohonlah supaya Tuhan menolong orang itu hidup dalam kebenaran yang dinyatakanNya.
·
Mohonlah supaya Tuhan menolong orang itu untuk menumukan rasa damai
sejati dalam Dia.
·
Kalau
mereka juga memerlukan kesembuhan fisik, doakan hal ini juga.
(Untuk penjelasan lebih dalam, lihat juga Modul 1,
bagian D.4.)
16.
Bertanyalah kepada mereka apa yang
telah Tuhan kerjakan dalam proses ini, yang ingin mereka ceritakan sekarang. Ajaklah agar mereka menceritakan kepada orang
lain apa yang telah Tuhan kerjakan, sesuai dengan petunjuk Tuhan. (Kalau mereka menceritakan hal-hal ini,
proses menceritakannya dapat menguatkan jalan baru ini.)
Follow-up
(untuk orang yang dilayani) – Mencari Kesembuhan Ilahi Akibat Trauma
1. Cobalah
cukup beristirahat dan tidur.
2.
Lakukanlah juga hal-hal (yang benar) yang menyenangkan.
3.
Bertumbuhlah dalam Isa Al Masih.
4. Carilah pandangan Tuhan mengenai segala hal
yang berarti. Berdoalah mengenai
keperluan Anda.
5.
Terapkanlah modul-modul yang cocok.
6. Carilah
orang yang penuh belas kasihan yang siap mendengarkan cerita Anda. Ceritakanlah kepada orang ini tentang
perasaan dan pikiran Anda dan carilah bersama-sama pandangan Tuhan.
7. Ingatlah
bahwa kesembuhan dari trauma merupakan proses, sehingga membutuhkan waktu.
[1]
Disesuaikan dengan izin dari “A Theory and Process for Christian Counseling
& Inner Healing” oleh Alfred Davis, halaman 45-50 and 143-149. Beberapa konsep serupa dapat juga ditemukan
di “Beyond Tolerable Recovery” oleh
Ed Smith.
[2] Beberapa orang merasa bahwa karena suatu situasi selama masa anak-anak, mereka kehilangan kesempatan untuk mengalami tingkahlaku dan kebiasaan seorang anak.
[3] “Proses Langkah-demi-Langkah” berisi langkah-langkah umum ketika menggarap suatu isu. Ubahlah sesuai situasinya. Ikutilah pimpinan Tuhan.
[4] Beberapa tindakan ini memerlukan waktu yang banyak. Satu contoh adalah bertumbuh untuk mempercayai Tuhan sepenuhnya. Bila ini kasusnya, lakukanlah sebanyak mungkin yang Anda sanggup lakukan sekarang. Lalu lanjutkan dengan langkah-langkah 3 sampai dengan 8. Teruskan dengan tindakan yang Tuhan berikan kepada Anda.
[5] Berdasarkan Beyond Tolerable Recovery, Basic Video Seminar Facilitator Guide, halaman 21
[6] Lihatlah catatan kaki #3 di “Modul 1: Ringkasan dan Pengantar”.
[7] “Proses Langkah-demi-Langkah” berisi langkah-langkah umum ketika menggarap suatu isu. Ubahlah sesuai situasinya. Ikutilah pimpinan Tuhan.
[8] “Proses Langkah-demi-Langkah” berisi langkah-langkah umum ketika menggarap suatu isu. Ubahlah sesuai situasinya. Ikutilah pimpinan Tuhan.
[9] Lihat catatan kaki #3 di “Modul 1: Ringkasan dan Pengantar”
[10] Diringkas dari Beyond Tolerable Recovery, Basic Video Seminar Facilitator Guide, halaman 20
[11] “Disosiasi – Memisahkan semua atau sebagian kesadaran seseorang dari hubungan dengan lingkungan luar ... “ Dari “Restorinmg Shattered Lives Seminar” oleh Dr. Tom dan Diane Hawkins, halaman 212.
[12] Beberapa dari perasaan negatif ini (misalnya yang terkait dengan amarah) mungkin bukan merupakan perasaan negatif pertama yang dirasakan dalam suatu situasi. Bila, ketika Anda berdoa mengenai suatu ingatan, Anda berpikir bahwa perasaan negatif yang dirasakan orang itu bukan merupakan perasaan negatif pertama yang muncul di pikiran, mohonlah supaya Tuhan menunjukkan kepada orang itu bagaimana ia merasa saat pas sebelum perasaan negatif itu menjadi jelas. (Bertanya kepada Tuhan untuk mengungkapkan mengapa ybs merasa perasaan negatif yang sudah menjadi jelas dapat memudahkan ini). Teruskan dengan proses ini hingga perasaan negatif pertama yang dirasakan orang itu dapat dikenali. Untuk perasaan-perasaan negatif yang berkaitan dengan amarah, lihat juga “Lampiran 2: Bila Perasaan Negatif itu Amarah” didalam modul ini.
[13] Tentu,
untuk menerima kasih dan anugerah Allah, kita harus bertobat, menerima
pengampunan, dan menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Yang dimaksudkan dengan “tanpa syarat”
adalah bahwa hubungan kita dengan Tuhan dan penerimaan kita oleh Tuhan adalah
berdasarkan pilihan dan anugerah Tuhan; bukan perbuatan atau amal baik
kita. Allah menerima kita apa adanya,
dan mengerjakan suatu proses yang akhirnya akan menghasilkan kesempurnaan. Tapi Ia tidak menuntut kesempurnaan di dunia
ini sebagai syarat untuk hubungan yang erat dan indah. Ia menuntut hati yang terbuka kepada
pekerjaan roh-Nya, dan kesiapan untuk dibentuk terus sesuai dengan kehendak-Nya.
[14] “Proses Langkah-demi-Langkah” berisi langkah-langkah umum ketika menggarap suatu isu. Ubahlah sesuai situasinya. Ikutilah pimpinan Tuhan.
[15] Bila Anda menolong seseorang menggarap kesedihan dan kehilangan, sebaiknya Anda:
· Ada bersama dia (Salah satu contoh mengenai hal ini ada dalam Ayub 2: 13).
· Menahan keinginan untuk mencoba “menolong” dengan memberi nasihat atau menyatakan kebenaran.
· Mendengar secara aktif. Memperhatikan tanda-tanda non-verbal. Mengatakan kembali kepadanya apa yang dikatakan. Dapatkan konfirmasi dari orangnya bahwa anda mengerti apa yang ingin dikatakan.
· Katakan bahwa perasaannya benar. Jangan mendiamkan kesedihan.
· Perlihatkan bahwa anda peduli. Bertindaklah dengan tulus.
· Tawarkan pengharapan dan penghiburan (2 Korintus 1: 4).
· Mengajaknya untuk membawa perasaannya kepada “Tuhan sumber segala penghiburan” (2 Korintus 1: 3).
· Mencoba menolong orang itu untuk melakukan langkah berikutnya untuk memproses kesedihan. Tunggulah akan waktu Tuhan. Jangan coba mempercepat menghilangkan kesedihan.
[16] Ada banyak contoh-contoh baik mengenai hal ini di Mazmur.
[17] DC, 10/03
[18] “Proses
Langkah-demi-Langkah” berisi langkah-langkah umum ketika menggarap suatu
isu. Ubahlah sesuai situasinya. Ikutilah pimpinan Tuhan.